Mengenal lebih dekat Dr. TGH Zainal Arifin Munir Lc.M.Ag
Dr. TGH. Zainal Arifin Munir, Lc., M.Ag. adalah putra kelahiran Batuson, kampung Rabitah, Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tanggal 31 Desember 1964, dari keluarga H. Munir dengan Hj. Jamilah. Nama panggilan kecil beliau adalah "Ipin" dan sampai sekarang sering dikenal dengan nama Abah Ipin. beliau adalah anak ketiga dari pernikahan antara ayahandanya H. Munir dan ibundanya Hj. Jamilah. Putra-putri dari pernikahan tersebut yaitu Hj. Nurhasanah sebagai anak sulung, Hj. Nurhayati, Dr. TGH. Zainal Arifin Munir, Lc., M.Ag., H. Zainal Abidin, Dahlan Munir, Sofyan Hadi dan Hj. SriNajawati.
Beliau memiliki seorang istri bernama HJ. Sakinah Mustofa dan memiliki lima anak yaitu H. Ahmad Mustanir (Anak sulung), H. Ala’ul Islam, Majid Said, Amira Asmalayali dan Abdurrahman (Anak bungsu). Beliau juga memiliki dua orang menantu. Menantu dari anak pertama H. Ahmad Mustanir bernama Nailul Amani Al Misriah, dan menantu dari anak yang ke dua H. Ala’ul Islam bernama Muyassaroh Zaini. Dan memiliki empat orang Cucu.
Beliau merupakan sosok ‘Ulama karismatik, terbukti dengan kemajuan yang signifikan pada pondok pesantren yang dikelola oleh beliau, yaitu Yayasan Pondok Pesantren Munirul Arifin Nahdlatul Wathan Praya yang lebih dikenal dengan sebutan “YANMU NW PRAYA”. Ini merupakan dalil keahlian beliau dalam memimpin, di samping kecerdasan dan keilmuan beliau. Yayasan pondok pesantren Munirul Arifin NW Praya “YANMU” adalah yayasan yang di bangun atas dasar tekad yang kuat dalam menciptakan generasi pemimpin yang baik untuk masyarakat
Dr. TGH. Zainal Arifin Munir merupakan sosok yang sederhana, kaya ilmu, kreatif dan inovatif. Kesuksesannya mengelola lembaga pendidikan membuat banyak kalangan belajar kepada dirinya.
Kualitas lulusan di lembaga pendidikannya tidak diragukan lagi. Kini, banyak alumni lembaga tersebut telah menempati ragam profesi di masyarakat. Sebut guru, dokter, tentara, polisi, dosen, perawat, bidan, apoteker dan lainnya. Ini belum termasuk lulusan yang kini melanjutkan pendidikan ke sejumlah negara.
Hasil ini tentu tidak datang begitu saja. Pola pendidikan yang diberikan, harus kuat. Dalam arti, kuat ilmu pengetahuan, kuat ekonomi, kuat iman dan takwa. Lalu, dibarengi dengan sabar, tetap berikhtiar dan berdoa kepada sang maha pencipta.
Riwayat Pendidikan:
Perjalanan pendidikan beliau tentu tidak mudah atau seenak yang di bayangkan. Dr. TGH. Zainal Arifin Munir, Lc., M.Ag. bersekolah di SDN 2 Praya pada tahun 1975-1979 sampai beliau duduk di bangku kelas 5 Dasar. Masa SD tentunya merupakan masa di mana kita banyak belajar hal-hal baru. Dalam suatu wawancara beliau pernah bertutur “Ada guru saya namanya L. Mahmud guru kelas I SD yang hebat sehingga sampai sekarang masih terasa sekali sentuhan guru pertama saya semasa di SD”. Dari ketulusan dan keseriusannya menuntut ilmu, belajar, mengaji sehingga gurunya di masa itu mendoakan dia menjadi orang besar.
Belum usai pendidikan masa SD, beliau di berangkatkan ke Mekkah Al-Mukarromah pada tahun 1979-1982 oleh kedua orang tua beliau untuk mengabdikan diri kepada Syaikh Adnan sekaligus belajar di Madrasah Assaulatiyah, Makkah. Saat itu Ipin kecil masih berusia 11 tahun. Beliau sekolah di Madrasah Assaulatiyah sampai tahun 1984. Di negeri gurun pasir itu, beliau belajar ilmu pengetahuan selama 10 tahun semenjak tahun 1979 sampe 1989. Selepas itu pria kelahiran 1964 ini mendaftarkan diri ke salah satu Perguruan Tinggi (PT) ternama di Inggris. Dia pun diterima. Sayang, orang tua tidak menyetujui. Kedua orang tuanya pun meminta agar dia melanjutkan pendidikan di Mesir.
Ditempat itu,beliau pun kembali mengenyam pendidikan selama sembilan tahun. Total 19 tahun di negara orang untuk menimba ilmu. Waktu yang tidak bisa dibilang singkat.
Setelah lulus dari Madrasah Assaulatiyah, tepat ketika umur beliau menginjak usia 21 tahun beliau melanjutkan pendidikannya di Universitas Al- Azhar Cairo, Mesir dengan bidang studi Fakultas Syariah dan Hukum jurusan Syariah pada tahun 1989. Ketika berusia 24 tahun, beliau masih di Mesir dan saat pulang ke Lombok, beliau menikah dengan HJ. Sakinah Mustofa dan membawa istrinya ke Cairo, Mesir untuk melanjutkan pendidikannya.
Dr. TGH. Zainal Arifin Munir adalah salah satu mahasiswa Indonesia yang diberi penghargaan oleh Dubes RI karena prestasinya sebagai Mahasiswa Indonesia pertama dengan nilai yang sangat baik di Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir.
Mengejar ilmu itu sungguh-sungguh. Tidak boleh setengah-setengah. Itulah keyakinan yang membuatnya tidak lekas puas dengan ilmu yang didapatkan.
Dorongan ini juga yang membuatnya kembali mencoba peruntungan menambah ilmu di Eropa. Kali ini dia mendaftar di salah satu universitas di Prancis. Secara administrasi dia diterima. Sayang untuk kali kedua orang tuanya menolak.
“Tiba-tiba di pintu mesir, ibu saya datang menjemput untuk pulang. Padahal, waktu itu saya tinggal menyelesaikan tesis. Saya pun dijanjikan akan diantar kembali ke Mesir. Malah, sebaliknya,” ujar beliau sembari senyum dalam suatu wawancara secara langsung.
Titah bunda tak bisa ditawar. Ia ikut pulang. Di tanah kelahirannya, dia pun diperkenalkan dengan sejumlah tokoh agama besar. Salah satunya adalah Maulana Syekh TGKH Muhamad Zainuddin Abdul Majid. Awal perkenalan pada tahun 1988 itulah, dia mulai mendalami berbagai keilmuan Islam yang didapatkan di Mekkah dan Mesir.
“Semua tidak pernah terencanakan. Mengalir begitu saja. Saya tidak pernah bercita-cita ke Mekkah atau Mesir, begitu pula urusan pondok,” ujar beliau dalam suatu wawancara yang di lakukan.
Setelah menyelesaikan pendididkannya di Mesir, beliau ingin melanjutkan Pendididikan S2 di Malaysia, akan tetapi tidak diberikan izin oleh orang tuanya. Ketika baru pulang ke Lombok, beliau pergi berziarah ke semua Masyaikh di Lombok, terutama kepada Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dan beliau di minta untuk mengajar di Ma’had Darul Qur’an wal Hadits (MDQH) dan pada akhirnya beliau mengabdi di NW dan menjadi Masyaikh termuda di Pancor kala itu. Beliau juga mengabdi atau mengajar di MAKN Mataram dan IAIN Mataram. Kemudian pada tahun 2003, beliau melanjutkan pendidikan S2 di Institut Agama Islam Al-Aqidah, Jakarta dengan mengambil jurusan Politik Islam.
Usia tidak menjadi halangan untuk terus belajar . inilah yang di buktikan oleh Dr. TGH. Zainal Arifin Munir, Tidak sampai di sana, beliau juga melanjutkan pendidikan untuk menyelesaikan S3 beliau di salah satu universitas swasta terbaik di indonesia. beliau menamatkan S3 di Universias Islam Indonesia, Yogyakarta dengan mengambil jurusan Hukum Islam, dengan judul Desertasi: Pemikiran hukum Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tentang kewarisan Islam. Dan meraih gelar doktor tahun 2017.
“Dalam menuntut ilmu itu harus dinikmati, semakin pahit pengalaman kita menuntut ilmu semakin terasa manisnya pada masa sekarang,” terangnya.
Riwayat Mengajar:
Dr. TGH. Zainal Arifin Munir, Lc., M.Ag. mengajar di Fakultas FUSA program studi Ilmu Qur’an dan Tafsir di UIN Mataram, mengajar di S1 dengan mata kuliah Fiqih Ibadah, Usul Fiqih, Ulumul Qur’an dan bahasa Arab. Selanjutnya beliau mengajar pada Fakultas Syariah program studi Ahwal Syakhshiyyah UIN Mataram dan mengajar S1 dengan mata kuliah Kajian Kitab Kaedah Peradilan dan Kajian Kitab Kaedah Perkawinan dan Waris. Kemudian, pada program Pascasarjana di UIN Mataram, beliau mengajar S2 dengan mata kuliah studi Qur’an dan Hadits Hukum Islam, Manajemen Pondok Pesantren dan Masjid dan studi qur’an dan Hadits MPI. Beliau juga termasuk salah satu Masyaikh senior di Ma’had DQH Majidiyah As Syafi’iyah di Anjani.
“orang yang beruntung adalah orang yang memanfatkan waktunya utuk belajar“
-The amazing word of Dr. TGH. Zainal Arifin Munir, Lc,. Mag

Komentar
Posting Komentar