Diganggu Mahluk Halus Saat Tidur? Perspektif Medis dan Psikologi

Hal menarik yang sering kita dengar dari cerita teman atau orang lain bahkan kita bisa rasakan sendiri ketika tidur yaitu kadang merasa sulit untuk bernafas, berbicara ataupun bergerak. Fenomena ini biasa disebut ketindihan. Ketindihan dalam bahasa medis dikenal dengan istilah sleep paralysis. 


Sleep Paralysis merupakan istilah yang berasal dari kata Sleep yang artinya ‘tidur’ dan Paralysis yang artinya ‘kelumpuhan’.1 Sleep paralysis adalah suatu kondisi yang biasanya terjadi ketika tidur atau bangun di mana individu sadar tapi tidak mampu bergerak atau berbicara dan sering disertai dengan halusinasi.2 Kondisi ini biasanya terjadi selama beberapa detik hingga beberapa menit. 


Dalam dunia medis, ketindihan dapat terbagi menjadi dua jenis, yaitu hypnopompic sleep paralysis dan hypnagogic sleep paralysis. Secara sederhana, hypnopompic sleep paralysis terjadi saat fase tidur ke fase bangun, sedangkan hypnagogic sleep paralysis terjadi dari fase bangun ke fase tidur. 


Ketika tidur, tubuh akan mengalami proses NREM (non-rapid eye movement) dan REM (rapid eye movement). Pada proses NREM inilah proses tidur dimulai yang berawal dari hilangnya kesadaran. Sebagian besar tubuh berada dalam proses NREM. Setelah proses NREM, maka akan beralih ke proses REM (rapid eye movement). Saat proses REM dimulai,  mimpi akan muncul dan seluruh otot tubuh tidak aktif sehingga tidak bisa digerakkan atau mengalami kelumpuhan sementara, pada proses inilah ketindihan terjadi. 


Ketindihan (sleep paralysis) terjadi ketika seseorang akan terbangun saat proses peralihan NREM ke REM dan pada saat itu otak tidak siap untuk mengirimkan sinyal bangun sehingga tubuh sulit digerakkan, tetapi tubuh sudah mulai membuka mata dan tersadar. Kelumpuhan sementara ini akan mengakibtkan tubuh merasa tertekan sehingga sulit untuk bernafas dan saat siklus REM ini belum selesai namun tubuh sudah terbangun, maka mekanisme kerja otak dan tubuh belum selaras menyebabkan tidak mampu berbicara.


Kebanyakan saat mengalami ketindihan,  akan timbul rasa takut dan cemas bahkan ada yang mengalami melihat hal mistis seperti ditindih mahluk halus, tercekik atau melihat penampakan. Hal ini karena halusinasi yang terjadi saat mengalami setengah kesadaran.   


Sleep Paralysis juga biasa terjadi pada mahasiswa karena disebabkan oleh berbagai faktor seperti posisi tubuh yang salah saat tidur, pola tidur yang kurang, penyalahgunaan obat-obatan, kecemasan dan stres. Dari berbagai faktor tersebut bisa menyebabkan gangguan saat tidur. Kualitas tidur yang buruk dapat menyebabkan masalah kesehatan psikologis dan fisiologis.3


Kebanyakan mahasiswa mengalami gangguan tidur karena pola tidur yang kurang cukup, kecemasan dan stres. Seseorang yang mengalami kejadian sleep paralysis menggambarkan kualitas tidur yang buruk, dengan kecemasan dan khawatir yang berlebihan.2 Sedangkan bentuk kecemasan mahasiswa adalah kecemasan akademik. Kecemasan akademik adalah perasaan gelisah yang tidak menyenangkan yang mempengaruhi kondisi fisik dan psikologis mahasiswa dalam situasi akademik.4 Ini bisa terjadi karena tuntutan kuliah yang harus diselesaikan disamping faktor ekonomi yang banyak mempengaruhi pola pikir mahasiswa.


Kecemasan berlebihan akan berpengaruh secara negatif karena mahasiswa mengalami tekanan psikologis sehingga berdampak pada hasil belajar yang kurang baik dan cenderung menghindari tugas, hal ini disebabkan karena penurunan perhatian, penurunan konsentrasi dan memori pada mahasiswa.4


Disisi lain, gangguan tidur seperti sleep paralysis paling banyak ditemui pada mahasiswa (28%) karena mereka lebih banyak mendapatkan stresor.5 Stresor adalah pengalaman atau situasi yang penuh dengan tekanan. Kejadian sleep paralysis bukan hanya terjadi pada mahasiswa, namun terjadi pada anak-anak hingga dewasa. Hal ini sangat perlu kita sadari mengingat masih banyak asumsi masyarakat tentang ketindihan (sleep paralysis) disebabkan oleh gangguan dari mahluk halus.



REFRENSI :


1. Diana A. Fenomena Ketindihan. 2022;1(2):153-162.

2. Kadek N, Hening D, Ketut D, et al. KEJADIAN SLEEP PARALYSIS PADA REMAJA SEKOLAH MENENGAH ATAS Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. 2019;8(10).

3. Ananda ID, Kurniawan R, Yanti N, Ihsani F. Sistem Pakar untuk Mendiagnosis Insomnia Menggunakan Metode Dempster Shafer. JIMP J Inform Merdeka Pasuruan. 2021;6(3):1-8.

4. Permata KA, Widiasavitri PN. Hubungan antara kecemasan akademik dan sleep paralysis pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana tahun pertama. J Psikol Udayana. 2019;6(01):1. doi:10.24843/jpu.2019.v06.i01.p01

5. Pragholapati A, Muliani R, Permatasari Lestari I. Hubungan Tingkat Stres dengan Kejadian Sleep paralysis pada Mahasiswa Sarjana Keperawatan Tingkat Akhir. J Kesehat dr Soebandi. 2020;8(1):34-39. doi:10.36858/jkds.v8i1.159

Penulis: M. Hifzul Mabrur HN. (Angkatan SMA plus YANMU NW PRAYA 2021)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tujuh prinsip Politik dalam islam

5 tips buat hidupkan literasi di kos, apa saja itu? Mari simak

Tips untuk tidak curang dalam belajar