AKU DAN KEMATIAN

 


Bendera kuning berjejer di mana mana. Pohon pisang disamping jalan raya  yang telah berpisah dengan akarnya pun ikut meramaikan. Semua orang datang ke rumah membawa beras “pelangar” (sebagai wujud bela sungkawa) ke rumah duka. Aku masih termenung tanpa kesedihan.

“ Mak, ada apa gerangan orang orang datang begitu banyak kerumah kita?”

“ Nak…! Mereka datang bergerombolan untuk melayat.!”

Ibuku menangis tersedu sedu tak bisa membendung air matanya, ibarat bendungan yang tak bisa lagi menampung air yang volumenya terlalu banyak. 

Lautan manusia sudah siap mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhirnya. Prosesi pemakaman pun berjalan dengan khidmat. Jenazah sudah masuk  ke liang lahad yang sunyi dan tak ber Alaskan permadani, hanya kain kafan yang menemani. Nisan berdiri tegak sebagai tanda bahwa tanah itu sudah ada yang tempati. 

Semua orang sudah pergi pulang, tinggallah aku dan keluargaku di dekat pusaran kubur. Aku pun termenung hebat dan baru menyadari bahwa yang di kuburkan tadi itu adalah jenazahku sendiri. Aku sangat sedih melihat kuburanku sendiri di depan mata telanjangku. 

Sontak  aku terbangun kaget  dari tidur lelapku.

“ ternyata hanya mimpi…!”

Dari sejak saat itu aku berusaha untuk lebih maksimal lagi menyiapkan bekal untuk kematia. Aku sekarang lebih yakin bahwa mati adalah ujung dari kehidupan dan mati itu benar ada nya.


Muhammad Taufikurrahman Al-hizbi(Penulis)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tujuh prinsip Politik dalam islam

5 tips buat hidupkan literasi di kos, apa saja itu? Mari simak

Tips untuk tidak curang dalam belajar